Vrydag, 19 April 2013

Problem Solving dalam Psikologi Kognitif


PROBLEM SOLVING
DALAM
PSIKOLOGI KOGNITIF
Disusun untuk memenuhi Tugas Makalah
Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu: Trubus Raharjo, S.Psi., M.Si
UMK Log







Di susun Oleh :
                             Mutia Hafidhyah Rohmah             (2012-60-019)


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2013/2014

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami haturkan kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah, serta inayah-Nya sehingga kami mampu menyusun makalah ini. Namun, dalam usaha penulis telah berusaha mencurahkan segala kemampuan guna terciptanya makalah yang berjudul ”Problem Solving dalam Psikologi Kognitif” yang mana merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi guna melengkapi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan.

Semoga dengan sedikit ilmu pengetahuan yang kami sampaikan melalui makalah ini, dapat menambah wawasan bagi para pembaca. Oleh karena itu, mohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan. Akhir kata kami mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.
                                                                 


Kudus, 20 Maret 2013


Penulis







DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar…………………………………………………………………………………
Daftar Isi………………………………………………………………………………………...
BAB I    PENDAHULUAN…………………………………………………………………...1
BAB II   PEMBAHASAN……………………………………………………………………..2
A.    Pengertian Problem Solving………...……………………………………………………..2
B.     Metode Pemecahan Masalah………………………….…………………………………...3
C.     Problem Solving dalam Psikologi Kognitif......................................... ………………….4
BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………...6
A.    Kesimpulan………………………………………………………………………………...6
Daftar Pustaka………………………………………………………………………...……….7







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Penulisan
Dalam menjalani hidup, kita mengalami berbagai permasalahan. Oleh karena itu, problem solving atau pemecahan masalah merupakan sesuatu yang biasa dalam hidup manusia. Dalam memecahkan masalah seseorang harus melalui berbagai langkah seperti mengenal setiap unsur dalam masalah itu, mencari aturan-aturan yang berkenaan dengan masalah itu, dan dalam segala langkah pasti memerlukan sebuah pemikiran. Jadi, kebanyakan aktivitas problem solving (pemecahan masalah) melibatkan proses berpikir atau kognitif.
Problem solving atau pemecahan masalah adalah suatu aktivitas pengambilan jalan keluar agar terjadi kesesuaian antara hasil yang diharapkan. Problem solving atau pemecahan masalah melibatkan membandingkan hal-hal, tetapi selalu ditujukan untuk datang ke semacam solusi. Satu hal yang kita tahu tentang pemecahan masalah adalah bahwa hal itu biasanya jauh lebih sulit bagi orang untuk melakukan ketika masih dalam bentuk abstrak.

B.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk melengkapi tugas makalah ”Problem Solving dalam Psikologi Kognitif” dalam mata kuliah ”Psikologi Pendidikan”.
2.      Untuk mengetahui apa problem solving atau pemecahan masalah.
3.      Untuk mengetahui hubungan antara problem solving atau pemecahan masalah dalam psikologi kognitif.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Problem Solving
Problem solving atau pemecahan masalah oleh Evans (1991) didefinisikan sebagai suatu aktivitas yang berhubungan dengan pemilihan jalan keluar atau cara yang cocok bagi tindakan dan pengubahan kondisi sekarang (present state) menuju kepada situasi yang diharapkan (future state atau desire goal). Sedangkan menurut Hunsaker, problem solving atau pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidak-sesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang diinginkan (Hunsaker, 2005).
Problem solving atau pemecahan masalah melibatkan membandingkan hal-hal, tetapi selalu ditujukan untuk datang ke semacam solusi. Satu hal yang kita tahu tentang pemecahan masalah adalah bahwa hal itu biasanya jauh lebih sulit bagi orang untuk melakukan ketika masih dalam bentuk abstrak.
Salah satu bagian dari proses pemecahan masalah adalah pengambilan keputusan (decision making), yang didefinisikan sebagai memilih solusi terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia. Pengambilan keputusan yang tidak tepat, akan mempengaruhi kualitas hasil dari pemecahan masalah. Secara umum dikemukakan bahwa problem timbul apabila ada perbedaan atau konflik antara keadaan satu dengan lain dalam rangka untuk mencapai tujuan, atau juga sering dikemukakan apabila ada kesenjangan antara das Sein dan das Soilen. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa dalam problem solving adalah directed, yang mencari pemecahan  dan dipacu untuk mencapai pemecahan masalah tersebut.

B.     Metode Pemecahan Masalah
Pada dasarnya tata cara, prosedut atau strategi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah ada dua macam:
1.      Algoritma
Suatu perangkat aturan atau tata cara yang apabila aturan ini diikuti dengan benar makan akan ada jaminan adanya pemecahan terhadap masalah. Strategi ini dijalankan tanpa pengetahuan khusus yang dapat membimbing seseorang ke arah pemecahan masalah. Cara ini boleh dikatakan trial and error secara buta. Dalam hal ini terdapat dua macam bentuk, yaitu:
a.       Penemuan acak tidak sistematis (unsystematic random search)
Cara ini ditempuh dengan mencoba semua jalan, sehingga dapat terjadi pencarian dua kali atau lebih pda jalan atau cara  yang sama.
a.       Penemuan acak sistematis (systematic random search)
Setiap jalan atau cara yang pernah ditempuh dicatat, sehingga tidak akan terjadi pengulangan pada cara yang sama yang dianggap tidak berhasil.
Metode penemuan secara acak hanya efisien pada ruang masalah yang sempit, sementara ruang permasalahan yang luas dan barangkali lebih tepat jika digunakan pendekatan heuristik.
2.      Heuristik
Pendekatan heuristik dapat didefinisikan sebagai proses penggunaan pengetahuan seseorang untuk mengeidentifikasi sejumlah jalan atau cara yang akan ditempuh dan dianggap menjanjikan bagi penemuan pemecahan suatu masalah. Ada beberapa metode dalam pendeaetan heuristik yaitu:
a.       Proximity Methods
Seseorang menempuh jalan atau cara yang dipersepsi lebih mendekati tujuan yang diinginkan.
b.      Analogi
Analogi dapat dilakukan dengan cara membandingkan pola masalah yang tengah dihadapi dengan pola masalah serupa yang pernah dialami baik oleh orang yang bersangkutan atau orang lain.
c.       Maching
Cara  ini hampir sama dengan metode kedekatan. Seseorang memahami situasi yang tengah dihadapi dengan tujuan yang diinginkan. Lalu ia membandingkan dengan pengetahuan yang ada di ingatannya.
d.      Generate-Test Method
Problem solving atau pemecahan masalah membutuhkan dua tahapan proses. Pertama, satu cara atau strategi pemecahan yang paling memungkinkan dicari atau dihasilkan. Kedua, gagasan pemecahan yang dihasilkan di uji apakah dapat berjalan dengan baik atau efektif. Jika belum berhasil, akan dicari cara pemecahan lain yang paling memungkinkan kemudian diuji atau dipraktikkan. Demikian seterusnya sampai diketemukan jalan pemecahan atas masalah itu.
e.       Means-Ends Analysis
Orang yang menghadapi masalah mencoba membagi permasalahan menjadi bagian-bagian tertentu dari permasalahan tersebut.
f.       Backward Search
Strategi ini dilakukan dengan berjalan mundur. Dengan maksud meminta orang memulai pda tujuan yang diinginkan (goal state) dan bergerak mundur ke belakang menuju pada  keadaan yang dihadapi semula (original state).
g.      Forward Search
Strategi berjalan ke depan, sebagai kebalikan dari strategi berjalan mundur. Seseorang memulai dari kenyataan yang dihadapi, kemudian secara bertahap bergerak menuju pada tujuan akhir yang diinginkan.

C.    Problem Solving (Pemecahan Masalah) dalam Psikologi Kognitif
Dalam perkembangannya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu wilayah psikologi manusia atau satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikirm dan keyakinan termasuk kejiwaan yang berpusat di otak juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa.
Menurut penelitian bahwa tahap-tahap perkembangan individu atau pribadi serta perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan belajar individu. Jean Piaget menyebut bahwa struktur kognitif sebagai skemata (Schemas) yaitu kumpulan dari skema-skema. Skema berkembang secara kronologis sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan demikian seorang individu lebih dewasa memiliki struktur kognitif yang lebih lengkap dibandingkan ketika ia masih kecil.
Pemantauan kognitif (cognitive monitoring) adalah proses pencatatan hal-hal yang sedang dikerjakan, apa yang akan dikerjakan kemudian, dan seberapa efektif kegiatan mental tersebut berkembang. Pemantauan kognisi selain untuk memahami dan memecahkan masalah sosial, juga penting dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan aspek non sosial dari inteligensi.
Orang tua, guru, dan teman sebaya dapat menjadi sumber yang efektif untuk meningkatkan pemantauan kognitif remaja. Pengajaran timbal balik adalah strategi pengajaran yang semakin banyak dipakai. Sedangkan Pemrosesan informasi sosial memusatkan perhatian pada cara seseorang menggunakan proses kognitifnya, seperti perhatian, persepsi, ingatan, pemikiran, penalaran, harapan dan seterusnya untuk memahami dunia sosial mereka.
Berkaitan erat dengan keterampilan pengambilan keputusan yang tepat adalah berpikir kritis. Berpikir kritis meliputi kemampuan seseorang untuk memahami makna yang mendalam dari suatu masalah, keterbukaan pikiran terhadap berbagai pendekatan atau pandangan yang berbeda, dan menentukan sendiri hal yang diyakininya. Agar pemikiran kritis dapat berkembang secara efektif, dibutuhkan dasar yang kuat dalam hal keterampilan dan pengetahuan dasar di masa kanak-kanak.
Menurut Piaget, intelegensi terditri dari tiga aspek, yaitu:
1.      Struktur (Scheme)
2.      Isi (Content): pola tingkah laku spesifik ketika individu menghadapi masalah.
3.      Fungsi (Fungtion). Dua macam fungsi invariant:
a.       Organisasi: kecapkapan seseorang dalam menyusun proses-proses fisik dan psikis dalam bentuk system-sistem yang saling berhubungan.
b.      Adaptasi: penyesuaian diri indivdu terhadap lingkungannya. Proses terjadi adaptasi Dari skemata telah terbentuk dengan stimulus baru yang dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1.      Asimilasi: proses pengintegrasian secara langsung stimulus baru ke dalam skemata yang telah terbentuk/proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk mengatasi masalah dalam lingkungannya.
2.      Akomodasi: proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara tidak langsung/proses perubahan respons individu terhadap stimuli lingkungan.
Dalam struktur kognitif setiap individu pasti ada keseimbangan antara asimilasi dengan akomodasi. Keseimbangan ini agar dapat mendeteksi persamaan dan perbedaan yang terdapat pada stimulus-stimulus yang dihadapi. Pada dasarnya pekembangan kognitif adalah perubahan dari keseimbangan yang dimiliki keseimbangan baru yang diperolehnya.
Piaget mengindentifikasi empat factor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak, yaitu:
1.      Kematangan
2.      Pengalaman fisik/lingkungan
3.      Transmisi social
4.      Equilibrium : Mekanisme yang diajukan piaget untuk menjelaskan cara anak berpindah dari satu tahap berpikir ke tahap berikutnya. Perpindahan terjadi ketika anak mengalami konflik kognitif atau ketidakseimbangan. Akhirnya, anak menyelesaikan konflik dan mencapai keseimbangan atau equilibrium pikiran.
BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Problem solving atau pemecahan masalah adalah suatu aktivitas pengambilan jalan keluar agar terjadi kesesuaian antara hasil yang diharapkan. Problem solving atau pemecahan masalah melibatkan membandingkan hal-hal, tetapi selalu ditujukan untuk datang ke semacam solusi. Satu hal yang kita tahu tentang pemecahan masalah adalah bahwa hal itu biasanya jauh lebih sulit bagi orang untuk melakukan ketika masih dalam bentuk abstrak.
Dalam memecahkan masalah seseorang harus melalui berbagai langkah seperti mengenal setiap unsur dalam masalah itu, mencari aturan-aturan yang berkenaan dengan masalah itu, dan dalam segala langkah pasti memerlukan sebuah pemikiran. Jadi, kebanyakan aktivitas problem solving (pemecahan masalah) melibatkan proses berpikir atau kognitif.

DAFTAR PUSTAKA
Kasijan, Z. 1984. Psikologi Pendidikan. PT. Bina Ilmu: Surabaya
Lasmahadi, Arbono. 2005. www.e-psikologi.com. Jakarta
MS, Suharman. 2005. Psikologi Kognitif. Srikandi: Surabaya
Nasution, S. 2006. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. PT. Bumi Aksara: Jakarta
Jarvis, Matt. 2000. Teori-teori Psikologi. Nusa Media: Bandung
Walgito, Prof. Dr. Bimo. 2003. Pengantar Psikologi Umum. Andi: Yogyakarta
Boeree. Dr.C.George. 2004. Personality Theories. Prismasophie: Yogyakarta


Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking